Thursday, March 28, 2013

Pedal Flat Yang Lebih Fun

Platform Pedal
Lebih menyenangkan di alam bebas


e-13 LG1, pedal flat terbaik saat ini

Platform Pedal, artinya pedal dengan kemampuan untuk menahan orang agar bisa berdiri diatasnya, nama lainnya adalah flat pedal, pedal flat.

Benar, ada beberapa argumen bahwa clipless/cleated pedal lebih baik untuk hampir semua kondisi bersepeda. Di sisi lain, nyatanya kita tahu beberapa rider bertalenta hebat, dan bukan hanya anak2 DH, yang berani bersumpah setia kepada pedal flat. Faktanya, satu orang dari kru tester sepeda kami akan selalu memilih sepasang sepatu ber-sol lengket dan pedal flat daripada clips, apapun hari dan kondisinya, meskipun untuk gowes XC seharian penuh. Kalau kamu belum pernah mencobanya, atau sudah lama waktu berselang sejak terakhir kali  kamu memakainya, maka ketahuilah beberapa keterampilan yang pasti mustahil kamu pelajari dengan sepatu yang terbaut erat pada pedal.



Bunnyhop aka banihup
1. Banihup dengan cara sebenarnya
Banihup dengan cara yang benar bukanlah seperti angkatan snatch & jerk seperti di olahraga angkat besi. Menarik pedal dan handlebar untuk mengangkat sepeda tidaklah bisa memberimu banyak kendali, malah biasanya kamu akan jatuh. Dengan hanya mengandalkan keterikatan antara sepatu dan pedal melalui pedal cleat, kamu akan bebankan seluruh kendali pada pedalnya. Sedikit kesalahan dalam mengangkat sepeda, bisa2 kamu akan jatuh melompat dari sepeda. Dengan belajar banihup melewati rintangan dengan pedal flat, kamu akan belajar perpindahan bobot, keseimbangan dan kendali. Bayangkan kakimu jadi seperti cakar burung yang sedang mencengkeram ranting untuk hinggap. Kemudian tekan suspensi sepedamu dan biarkan sepedamu melompat dari tanah dengan kakimu.


Hammer those hamstrings
2. Efisien seperti rubah
Sol sepatu flat yang lentur biasanya memang tidak bisa memindahkan tenaga se-efisien sepatu balap dengan sol karbon fiber yang kaku, tapi hal ini bukanlah berarti kamu kehilangan efisiensi. Kayuhan pedal yang bisa halus (smooth) itu sangatlah sederhana, meskipun kamu memakai pedal flat. Daripada membayangkan kakimu bekerja seperti piston yang bergerak keatas dan kebawah setiap kali pedal dikayuh, pakailah otot hamstring kamu (kalau anak gibol pasti tahu, otot hamstring adalah otot didaerah paha belakang) untuk menarik pedal ke belakang sewaktu kaki berada di posisi bawah dalam tiap kali kayuhan, mirip seperti gerakan kaki kalau sedang membersihkan lumpur dari bawah sepatu. Intinya seperti dicongkel kembali keatas.



Jelas lebih mudah dengan sepatu flat
3. Ada ruginya, ada untungnya
OK, jadi kamu telah korbankan sedikit efisiensi, dan tentu saja hal ini tetap disebut sebuah gowes dengan sepeda, bukan berjalan dengan sepeda. Bagaimanapun, ada beberapa kondisi tak terhindarkan dimana kamu harus turun dari sepeda dan mengangkatnya. Keuntungan dari memakai sepatu flat yaitu sol dengan grip yang lengket itu juga cocok untuk kondisi berjalan dan angkat sepeda. Mereka menempel ke batu dan tanah dengan lebih baik dan dengan lebih nyaman pula. Untuk rider santai (bukan balapan), sangatlah bagus kalau bisa berjalan bebas dan bisa menjelajah medan sedikit2.



Lebih lentur dengan pedal flat
4. Gunakan dengan gaya
Membiasakan gowes dengan pedal flat akan sedikit memakan waktu jika kamu sudah lama terbiasa memakai pedal clipless. Walaupun begitu, sekali menguasai teknik memakai pedal flat, ia akan memberimu mobilitas yang tinggi dalam memindah beban - terutama ketika sedang menikung dengan agresif. Dari pengalaman kita, mampu menggeser posisi kaki sewaktu bermanuver akan membuatmu bisa menggunakan pinggul, lutut dan otot2 utama lain untuk mengemudikan sepeda. Hal ini akan menjadi lebih alamiah dengan makin terbiasanya kamu memakai pedal flat. Lihat dimana jalur keluarnya dan tubuh bagian bawahmu akan mengikutinya.




Five Ten Baron

5. Tetap lengket
Cobalah memakai sepatu flat dengan sol yang memiliki grip maksimal, contohnya seperti Five Ten Baron. Sepatu ini didesain agar bisa menempel dengan baik ke pedal flat karena memiliki sol berbahan karet khusus yang lengket serta mampu meredam getaran. Kita telah mencoba berbagai macam kombinasi sepatu dan pedal, dan rata2 memang Five Ten adalah salah satu diantara yang terbaik. Tetapi tidak semua orang suka dengan kelengketannya, kita dengar ada juga sebagian yang kesulitan beradaptasi karena kelengketan sepatu ini.



Selalu pakai shin guard adalah ide yang bagus

6. Tak ada yang suka burger tulang kering
Perlindungan tulang kering (shin protection) bukanlah ide yang buruk jika kamu gowes dengan pedal flat, apalagi jika masih pertama kali pakai. Tahu kan pin2 tajam yang lengket menempel dibawah sol sepatu kamu? Mereka akan terasa seperti rahang jebakan beruang kalau kamu sampai terpeleset dari pedal dan pedalnya menghantam tulang keringmu. Protektor akan membuat perbedaan antara lubang2 di plastik protektor dan perjalanan via ambulans ke UGD terdekat.

Kita semua sedang membangun keterampilan dalam bersepeda yang nantinya akan membuat gowes jadi lebih menyenangkan. Berilah pedal flat kesempatan. Kamu akan jadi rider yang jauh lebih baik lagi.

Diterjemahkan secara bebas dari MTBAction magazine.

Saya sendiri mendukung penuh pemakaian pedal flat dan sepatu flat, setelah sempat dari tahun 2005-2008 selalu memakai cleated pedal. Akhirnya setelah mencoba pedal flat memang benar there's no turning back, saya jadi senang memakainya walaupun pada awalnya terasa sedikit aneh, seperti ada yang mau lepas (pada kenyataanya Five Ten Karver saya tidak pernah gagal, selalu menempel ke pedal) dan alhasil sepatu dan pedal cleated saya jadi nganggur. Satu hal lagi kalau kamu pakai pedal flat maka jika terjadi sesuatu akan lebih mudah untuk lompat dari sepeda.

Oh iya, pengalaman saya punya pedal Shimano BMX flat, asalnya terasa kurang menggigit, setelah pergi ke toko mur-baut terdekat, saya ganti semua pinnya dengan pin yang berukuran lebih panjang sedikit, maka hasilnya pedal jadi super lengket walaupun dicoba dengan sepatu flat biasa, hanya awas hati2lah dengan pinnya...

Nah teman2, silakan dicoba, meskipun tidak memakai merek Five Ten asalkan pedalnya punya cukup pin untuk menahan sol sepatu, maka hal itu sudahlah cukup.

Inspeksi Sepeda Paska-Jatuh

Post-Crah Bike Inspection
Pemeriksaan Sepeda Paska-Jatuh


Dia pilih sepedanya

Setiap orang sudah pernah mengalaminya. Momen sewaktu jatuh, biasanya ada sepersekian detik waktu dimana kamu bisa memutuskan mana yang akan kamu selamatkan, kamu sendiri atau sepedanya. Seringkali sewaktu naik sepeda mahal, kamu akan pilih opsi yang terakhir. Bagaimanapun juga, kalau dipikirkan hal ini sama saja seperti melompat ke tengah rel untuk menstop kereta api yang sedang berjalan hanya untuk menolong sepeda yang jatuh diatasnya. Beberapa orang anggota kru tester sepeda kami sangat terkenal sering jatuh dibandingkan dengan yang lain. Paska-jatuh, dan tentunya setelah beberapa aplikasi betadine dan beberapa butir ibuprofen, akhirnya kita pun jadi memiliki tips yang rapi dan detil untuk memeriksa sepeda secara keseluruhan. Harapannya, jangan sampai kamu menggunakannya, tetapi siapa tahu dibutuhkan, inilah panduan untuk menemukan dan mengatasi masalah2 umum yang biasanya muncul setelah jatuh.



1. Fork
Kerusakan pada stanchion garpu depan (bagian atas tabung yang biasanya chrome, aluminum /magnesium dan kalo dari Fox yang ada lapisan Kashimax itu lho) akan membuat karet seal makin lekas aus. Hal ini berujung kepada habisnya minyak, dan akhirnya mengakibatkan kerusakan parah di dalam jeroan garpu. Jika kerusakannya tidak terlalu parah, biasanya bisa diperbaiki dengan kertas gosok yang paling halus. Sayangnya, kalau kamu merusakkan stanchionnya, biasanya gak lama kemudian sudah tiba waktunya untuk ganti crown/steerer/bagian atas fork atau bisa malah ganti fork sekalian.





2. Steering
Ketika kamu jatuh berjumpalitan kemudian gowes lagi, apakah terasa ada yang beda? Terasa tapi sulit untuk tentukan bagian yang mana? Periksa brake lever & shifter apa ada yang bengkok atau bergeser. Kalau kamu diamkan saja dan sepeda jadi terlalu lama dalam posisi ini tanpa dibetulkan maka kamu akan jadi terbiasa dengan posisinya. Mungkin kamu tidak menyadarinya sampai kamu turun dari sepeda dan melihatnya sendiri. Sebuah meteran derajat (angle finder) bisa berguna buat hal ini. Kalau kamu gak punya alatnya, duduklah diatas sadel dan bandingkan antara ketinggian lever2 dan handlebar.






3. Grips
Periksa grip2nya ketika sedang kamu pakai. Kalau kamu kehilangan tutup ujung handlebar (bar plug) sewaktu jatuh, maka jatuh berikutnya bisa melibatkan jaringan tubuh kamu sendiri - bahaya! Segera ganti dan pasang.






4. Tires
Kamu harus periksa apakah ada dinding ban yang rusak. Segera ganti jika sewaktu dipompa dengan tekanan yang keras terlihat ban dalam mulai mendesak keluar. Tergantung dari ketebalan dinding ban, ada beberapa rider yang sukses menjahitnya, lumayan buat gowes beberapa kali sebelum akhirnya ganti ban.




5. Carbon Fiber
Komponen karbon fiber punya kelemahan jika seratnya rusak. Kita sering melihat banyak contoh dimana ada kerusakan yang awalnya tidak lebih dari sebuah goresan pada cat, dan berujung kepada kegagalan struktur seratnya. Tidak ada keraguan sama sekali disini, lebih baik bermain aman dan ganti komponennya. Karbon cenderung lebih cepat gagal dan tanpa peringatan sama sekali. Kita gak mau hal ini terjadi sewaktu sedang gowes kan? Hal ini juga berlaku ke frame, juga komponen lain seperti handlebar dan seatpost.
Makanya saya pribadi gak pernah sekalipun memakai komponen yang berbahan karbon, lebih baik berat sedikit tapi bisa finish dengan selamat.






6. Rear Derailleur
Setiap RD hanger (komponen yang menyatukan RD dengan frame) sesekali bergoyang sedikit ketika sedang dipakai. Kalau kamu perhatikan adanya miss shift (perpindahan gigi yang tidak pas) setelah gowes dengan keras, itu semua gara2 komponen tersebut. Periksa dengan cara berdiri di belakang sepeda untuk memastikan RD pulleys (komponen RD yang ada 2 roda kecil & satu lengan penggerak) sejajar dengan cassette cogs/sprocket (kumpulan gir2 belakang), membentuk satu garis lurus. Biasanya RD hanger bisa dibengkokkan agar kembali lurus dalam sekali coba saja. Setelahnya, bahan/materialnya akan melemah dan akan tiba waktunya untuk beli RD hanger yang baru.





7. Stem
Stem yang melintir biasanya luput dari pemeriksaan akibat adrenaline rush paska jatuh. Periksa setelah sampai dirumah. Periksa juga torsi kekencangan semua bautnya dan atur ulang headsetnya.






8. Brakeset
Periksa rantai dan rotor untuk keselarasan. Biasanya jika terkena dampak akibat jatuh, kedua komponen ini sangat mudah diperbaiki. Keduanya bisa diluruskan, tetapi lebih baik lagi jika diganti dengan yang baru. Peringatan disini: Jauhkan jari kamu dari rotor ketika sedang memeriksanya. Anggota kami disini pernah merasakan jarinya dibikin fillet oleh rotor. Ouch!





9. Frame
Yang paling dihindari rider setelah jatuh adalah kerusakan pada frame. Sayangnya hal ini sering terjadi tiap kali ada sepeda yang jatuh. Periksa permukaan cat dari kepingan, retakan atau keriput yang biasanya tidak ada. Terkadang feeling (perasaan) bekerja lebih baik daripada penglihatan dalam hal ini. Juga, periksa sambungan kritis di sekitar daerah bawah downtube, chainstays dan seatstays dengan cara merabanya dengan jarimu sepanjang frame untuk merasakan adanya keriput atau penyok.






10. Wheels
Periksa roda kamu. Seringkali ada penyok, jari2 (spokes) yang kendur atau sudah mulai peyang/tidak seimbang. Biasanya kita memakai cable-tie yang dipasang pada seatstay agar bisa jadi acuan pemeriksaan keselarasan roda.






11. Paints
Iya betul, hal ini adalah soal kosmetik/penampilan, tapi merawat cat yang tergores berarti menunjukkan bahwa sang pemilik juga merawat sepedanya dengan baik. Pilihan terbaik adalah pergi ke toko cat mobil. Biasanya mereka punya stok cat untuk hampir semua warna sepeda yang sesuai. Kalau warna sepeda sangat umum seperti hitam, putih, silver, merah dll bisa dicoba cat Touch Up dalam botol seperti yang dijual di ACE Hardware misalnya (inibukaniklanlho).

Diterjemahkan secara bebas dari MTB Action.

Saya sendiri juga sering jatuh, apalagi kalau sedang epic ride sampai seharian, sebabnya biasanya karena fisik yang sudah tidak fit lagi, akhirnya bisa timbulkan berbagai macam kesalahan. Salah berakibat jatuh. It's that simple. Mungkin juga karena faktor usia. Maybe.

Monday, March 25, 2013

Cara Mengenalkan MTB ke Anak dan Pasangan



"Biking Is Life"


Hidup adalah Bersepeda

Well, masa itu telah datang lagi secara hari2 jadi semakin hangat dan panjang. Ajak anak2 bersepeda sekarang dan kamu akan menikmati semusim penuh dengan petualangan bersama mereka, seperti Editor roadbike kita Jason Summer yang menulis artikel menakjubkan tentang hal ini.

Kita telah lakukan apa yang selama ini kita ucapkan sepanjang tahun dan sudah dapat banyak anak2 yang ikut bersepeda. Satu hal yang ingin kita mantapkan yaitu berusaha bersepeda dengan normal. Kalau kamu bersepeda setiap waktu dan membuatnya menjadi bagian dari rutinitas tiap hari, anak2 kamu akan bersepeda juga setiap waktu. Perjalanan ke taman, sekolah dan teman2 adalah dengan bersepeda yang fun, jauh lebih baik daripada rutinitas naik mobil.

Pencerahan lain buat kita yaitu para goweser harus mendukung infrastruktur sepeda seperti BMX Parks, Pump Tracks dan jalur sepeda di kotamu sendiri. Waktunya sangat pas untuk membuat Pump Track pertama di kotamu, lingkungan kecamatan/kelurahan dan halaman belakang rumah. Anak2 akan siap untuk bersepeda jika ada tempat dan fasilitas yang disediakan.

Dan sesuai seperti sebuah pernyataan di film Sandlot: "Bersepeda adalah Hidup."

Kumpulan Artikel dan Tips Tentang Sepeda dan Keluarga





Diterbitkan pertama pada Oktober 2012.

Kamu adalah seorang mountain biker yang sangat antusias, lebih condong ke gaya hidup daripada hobi. Jadi mimpimu adalah bersepeda bersama pasangan dan/atau anak. Kamu ingin membagi rasa cintamu akan sepeda dan kamu ingin agar mereka mendapatkan manfaat dari segala apa yang MTB tawarkan.

Tetapi biasanya lebih gampang ngomong daripada lakukan, betul? MTB itu melibatkan tanjakan aka "penderitaan" dan bebatuan aka "mengerikan". Sangat tidak mudah namun sangat berharga. Apakah jalan terbaik untuk mengungkapkan hal ini ke mereka dan memotivasi mereka ke olahraga yang sangat kamu cintai ini? Bagaimana caranya membakar api gairah di dalam hati mereka sehingga mereka bisa masuk menyatu dengan MTB dan mulai mencoba gowes sendiri?

Inilah beberapa poin. Silakan setuju atau tidak setuju dan tambahkan versi kamu sendiri.




Awali Sejak Dini dan Sering
Tunjukkan mereka dengan kebaikan dari bersepeda sejak dini dan sesering mungkin. Belikan sepeda keseimbangan tanpa gir dan pedal seperti gambar diatas dan buatlah mereka bisa naik roda dua sejak awal (mungkin buat paket hematnya gak harus beli baru seperti diatas, gimana kalo kita coba cari/beli sepeda kecil bekas dan kita lepas crank, gir dan rantainya? Rem biarin aja tetap terpasang). Ajaklah bersepeda sesering mungkin di komplek sekitar rumah. Tonton video sepeda yang menyenangkan serta balapan sepeda. Ajak mereka ke even2 balap. Mulai sejak sekitar mereka berumur 5 tahun, jangan ketika mereka sudah beranjak remaja. Pakai trailer bike (gandengan sepeda beroda satu yang dipasang ke sepedamu) untuk membuat mereka bisa merasakan bersepeda di alam luar sejak dini.

Tekanan Kelompok Sebaya
Tidak ada yang bekerja bagus seperti tekanan kelompok sebaya yang positif. Jika ada sekumpulan ibu2 atau wanita yang pergi untuk gowes bareng, isteri kamu mungkin akan ingin bergabung dengan mereka, apalagi jika mereka itu adalah teman2nya. Anak kamu akan ingin pergi gowes naik turun bukit jika semua teman2 dia yang keren juga gowes kesana. Ajak teman2 mereka gowes keluar dan keluargamu pun akan pergi gowes keluar juga. Bertemanlah dengan keluarga2 yang anaknya telah bersepeda.

"Roda bantu sepeda adalah penemuan persepedaan terburuk yang pernah diciptakan."

Hindari Roda Bantu
Roda bantu adalah penemuan terburuk yang pernah diciptakan untuk seorang pesepeda. Tidak ada yang pernah terbantu oleh alat ini untuk bisa bersepeda. Kenyataannya, mereka malah bekerja sebaliknya. Roda bantu pada dasarnya adalah semacam tongkat bantu jalan (kruk, crutches) yang merusak kemampuan anak untuk menjaga keseimbangan bersepeda. Keseimbangan bersepeda melibatkan momentum dan kemudi sepeda ke arah mana sepeda akan jatuh. Roda bantu bekerja sebaliknya secara dia malah mendorong sepeda ke arah berlawanan jika kamu mencoba mengendarai sepeda ke arah yang benar. Juga sewaktu anak jatuh, mereka harus menjulurkan kakinya untuk menahan badan agar tidak jatuh. Lagi2, roda bantu merusak insting alamiah ini. Hasilnya, ketika sang anak melepas roda bantu untuk pertama kalinya, mereka hanya bisa bengong tidak tahu apa yang harus dilakukan agar tetap seimbang. Akhirnya mereka jatuh dan nyali pun jadi ngedrop. Skill yang mereka pelajari hanyalah bagaimana cara mengayuh. Lebih baik kalo mereka belajar mengayuh di sepeda roda tiga saja. Kemudian mereka bisa belajar keseimbangan memakai sepeda keseimbangan atau skuter roda dua (yak persis yang di acara TeleTubbies itu, teman). Hal ini seharusnya hanya berlangsung sampai beberapa minggu baru kemudian mereka bisa mencoba ke sepeda roda dua yang sesungguhnya.



Bersepeda Di Jalan
Meskipun MTB adalah tujuan utama, jalan perumahan yang sepi adalah tempat yang sempurna untuk berlatih. Hal ini akan membentuk otot dan membuat mereka merasa nyaman bersepeda. Kendarai beberapa kali. Buatlah agar  teratur, menyenangkan, dan terutama, normal. Tiap jam yang mereka habiskan bersepeda adalah seperti tabungan di bank. Buatlah agar lebih berarti seperti belajar melewati trotoar dengan mudah. Buatlah balapan pura2 dengan gowes ngebut ke titik tertentu. Jalani jalur2 pendek dan hindari kendaraan bermotor. Buatlah bersepeda sama alaminya dengan berjalan. Pasangan kamu mungkin akan lebih suka gowes di jalan aspal dulu daripada ke gunung, mengingat faktor resiko yang lebih minim.

Cari Sepeda Yang Sesuai
Berilah keluargamu sepeda yang berukuran pas dan pastikan sudah diset secara sempurna. Pastikan sadelnya empuk dan nyaman. Anak kecil tidaklah butuh 35 psi, paling2 mereka hanya butuh 15 psi saja. Dan pastikan jari2 kecil mereka mampu untuk meraih brake lever dengan nyaman. Utamakan kendali daripada kecepatan. Jangan paksa mereka untuk naik sepeda besar yang harus menunggu 2 tahun dulu baru pas dengan badannya. Jangan pakai roda bantu selama gowes di jalur sepeda. Pastikan tiap orang memakai pedal flat.


Diva - Daryll - Fina - Dimas - Vira

Latih Mereka Bagaimana Cara Bersepeda
Hal ini berarti kamu harus berlatih bagaimana mengendarai sepeda yang benar. Banyak goweser dewasa tidak pernah mendapatkan latihan bersepeda yang benar dan hal ini adalah sangat memalukan. Anak2 biasanya tidak tahu cara mengoperasikan shifter dan biasanya bersepeda dengan posisi gir yang terlalu berat atau memindah gigi ke posisi yang salah ketika dibutuhkan. Ajarkan mereka agar selalu memakai kedua sisi rem setiap waktu. Ajarkan mereka menjaga agar pedal tetap sejajar dan menyerap getaran dengan lutut dan sikut mereka ketika sedang melibas trotoar jalan.


To The Hill We Go

Temukan Jalur Yang Sempurna
Jangan carikan jalur yang terbaik buat kamu. Cari jalur yang paling aman, paling mudah dan paling menyenangkan buat mereka. Pelajari jalur dan jarak dan pastikan bahwa jalur sudah ditata (ditata maksudnya disiapkan seperti semua hal2 yang beresiko dihilangkan dll). Ketahui semua tikungan dan semua batu. Hapus kata "EPIC" (hebat secara menakjubkan) dan "ADVENTURE" (petualangan) pada acara gowes pertama dengan keluarga. Segalanya harus berjalan sempurna dan kamu punya rencana cadangan jika sewaktu2 ada kejadian darurat. Ajarkan tentang kesusahan dan penderitaan belakangan, nanti saja jika mereka sudah benar2 nyangkut di dunia sepeda.

Bersikap Antusias Dan Dengan Positif
Sikap mereka adalah cerminan dari sikap kamu, maka tunjukkan sikap senang dan perhatian dalam setiap bagian perjalanan. Jangan marah atau frustrasi apapun yang terjadi. Jika sesuatu terjadi, jangan panik. Hadapi dengan benar maka mereka pun akan belajar melakukannya. Berpura2lah seakan2 tidak siap padahal kamu sudah siap sejak awal, apapun yang akan terjadi (Wah kalo ini sih bisa diterapkan ke urusan anak lainnya, gak cuma bersepeda aja).

Tentukan Hadiah Atau Tujuan
Ajaklah mereka ke kedai pancakes atau es krim jika mereka mampu menaklukkan bukit. Belikan mereka bell baru, sandaran sepeda atau stiker jika mereka meraih sesuatu yang baru. Berikan sesuatu untuk sepeda mereka sehingga mereka suka dan bisa beri sentuhan pribadi buatnya.

Buatlah Jadi Sebuah Petualangan
Ambil banyak foto dan bikin sebuah album atau video dan hadirkan petualangan bersama mereka. Tunjukkan sikap takjub pada setiap hewan dan makhluk yang kamu temui. Bikin permainan tentang siapa yang bisa menunjukkan hewan terbesar atau pohon tertinggi.


Deto - Dimas - Dante

Nah bagaimana teman2? Setujukah dengan artikel diatas? Atau adakah tambahan tips? Sebaiknya memang kita jangan egois dengan bersepeda sendiri, ajaklah anggota keluarga di rumah, minimal ajak anak kita. Bagilah waktu antara gowes dengan teman2 dan gowes dengan keluarga, ingat bahwa keluarga adalah numero uno. Bisakah kita segera memulainya? Saya yakin teman2 pasti bisa.
Saya sendiri juga sudah mencoba bersama keluarga, dan hasilnya semua anak dan keponakan yang saya ajari alhamdulillah sudah bisa naik sepeda, walaupun pada akhirnya hanya keponakan laki2 yang terus bersepeda bersama sampai sekarang, bahkan tahun depan selepas SMA dan melanjutkan sekolah ke Aussie, dia pun sudah berencana akan bawa MTB-nya kesana.
Bicara tentang bersepeda dengan keluarga, saya jadi ingat salah satu teman saya yang setiap kali gowes selalu bersama isteri dan anak perempuannya, hampir tiap pagi mereka bersepeda bersama, malah jarang sekali gobar dengan teman2. Terkadang jadi sedikit iri juga lihat kebersamaan mereka dalam sepeda. What a lucky guy!

























Jadilah Pilot, Bukan Penumpang

MBUK's Take Control Part One
Be A Pilot, Not A Passenger
Jadilah Pilot, Bukan Penumpang



Pernahkah kamu merasakan sewaktu bersepeda (dengan cara AM, tentunya...), kamu hanya bisa melibas jalur dan berdoa aja? Jika iya, maka berlatih jurus2 berikut, dan melakukannya terus menerus akan memberimu pengetahuan dan keyakinan diri untuk tetap dalam kendali - dan jauh dari kata jatuh.

Bersepeda secara hampir menembus batasan2 kamu adalah sangat menyenangkan, tetapi ada sedikit perbedaan antara bersepeda asal2an semau gue dan bersepeda dengan punya skill untuk tetap dalam kendali ketika jalur berubah menjadi ekstrem. Definisi kendali adalah mempunyai kemampuan untuk mengatur, ber-reaksi dan melakukan perubahan instan dalam jalur bersepeda - untuk melaju lebih cepat atau hanya bertahan diatas sepeda.
Kemenangan Danny Hart di DH World Cup 2011 adalah salah satu contoh kontrol yang menakjubkan yang pernah terlihat di atas roda dua. Dia meluncur dan mengukir jalur turun ke bawah, jalur yang bagi sebagian rider dianggap mustahil untuk dibuat balap. Tetapi nyatanya Danny sudah biasa gowes di jalur licin dan basah area perbukitan Hamsterley Forest sejak remaja.
OK, jadi kita gak mungkin kalau disuruh gowes seperti dia, tapi itulah sebuah contoh bagus bagaimana pengalaman, pengetahuan dan latihan bisa membantu kita untuk tetap dalam kendali. Tak peduli apapun tujuan kamu, apakah hanya ingin menguasai satu fitur aja atau ingin lebih dekat ke sisi liar dalam dirimu, jurus2 dan latihan2 berikut akan meningkatkan kontrol kamu dalam setiap situasi.

Customise Your Bike
Sesuaikan Sepedamu Dengan Dirimu
Sangatlah penting untuk menyesuaikan sepedamu dan komponennya agar pas untuk gaya gowes kamu - hal ini akan meningkatkan kontrol kamu. Tenaga rem ekstra, kinerja suspensi yang lebih halus dan lebih banyak traksi ban (grip) akan bisa didapat hanya dalam sekian menit pengaturan dan beberapa klik saja.


Lebar Handlebar / Panjang Stem
Handlebar berukuran 740mm sudah gak bisa dikatakan lebar lagi - sekarang ini ukuran sekian adalah hal normal, biasa.

Posisi Rem
Dalam posisi berdiri, taruhlah tanganmu diatas handgrip dan julurkan jari telunjuk kamu kedepan. Sekarang aturlah sudut, jangkauan brake lever dan shifter sampai kamu bisa meraih semua lever dengan nyaman dan dengan tenaga tekanan yang maksimal.

Tinggi Sadel
Kalo kamu sedang gowes turunan atau sedang berlatih jurus, turunkan sadel kamu kebawah agar badan kamu dapat bergerak bebas memindah2 bobot diatas sepeda (Kalau saya pribadi pakai telescopic seatpost seperti RS Reverb untuk Giant Reign saya, lebih praktis).

Pedal / Sepatu
Kalau kamu ingin meningkatkan jurus kamu, pakailah pedal flat dan sepatu dengan sol yang lengket. SPD sangat bagus untuk balap, tapi tidak bagus bagi yang sedang belajar teknik mengangkat roda sepeda, serta membingungkan bagi pemula (Mungkin teman2 sudah banyak yang pakai, seperti saya sendiri pakai 5.10 Karver).

Ban
Untuk pemakaian sepanjang tahun, pakailah ban depan dengan kembangan yang agresif dan ban belakang yang cepat namun punya traksi rem yang bagus. Sebagai rumus jempol, mulailah dengan tekanan awal 26 psi. Kalau masih terkena bocoran (pinch puncture/snake bite) maka tambahkan 2 psi tiap kali bocor. Pantau tekanan ban tiap kali akan gowes (Saya sendiri biasa pakai Kenda Nevegal, tapi buat Reign saya pasang Maxxis High Roller II 2.4, ternyata memang lebih ringan dari Nevegal tapi dengan grip yang sama kuat. Jangan lupa ukuran minimal untuk main AM adalah 2.1 keatas. Rata2 teman saya pakai Nevegal 2.35).

Suspensi
Suspensi yang asal dipakai atau asal diatur akan lebih banyak mengganggu daripada membantu, maka siapkan waktu untuk mengatur suspensi dengan benar. Baca tips dari kami tentang pengaturan sag, rebound dan compression:

Atur Sag Kamu
Sag = posisi suspensi ketika tertekan berat badan kita dalam kondisi sepeda diam. Sesuaikan suspensi preload sepedamu, sampai kamu mempunyai sag 30 persen untuk shock belakang sewaktu posisi duduk dan sag 20 persen pada fork depan ketika posisi berdiri. Lakukan pengaturan ini dengan kondisi full riding gear alias dengan perlengkapan sama sewaktu sedang gowes, jadi bisa didapatkan pengaturan yang sama dengan kondisi kamu sewaktu gowes (termasuk sepatu, helm, tas berikut isinya dll). Cek rekomendasi dari pabrikan - beberapa desain suspensi bisa membutuhkan aturan sag yang berbeda.

Rebound
Rebound = Posisi Balik. Yaitu seberapa cepat posisi fork/shock balik lagi ketika selesai ditekan. Atur rebound kamu secepat mungkin, tanpa terasa membal jika fork atau shock dalam posisi kembali setelah ditekan oleh berat badan kamu sendiri. Pada track yang cepat dengan banyak bebatuan, tambahkan sedikit rebound untuk meningkatkan kontrol. (Merek Fox, Marzocchi dan lainnya biasanya hanya lambang plus (+) buat cepat dan minus (-) buat lambat, kalau di RockShox gampang banget, ada gambar kelinci dan kura2, ngerti kan maksudnya?).

Compression Damping
Disebut juga Peredaman Tekanan. Yaitu seberapa cepat fork/shock menerima tekanan (lawan dari Rebound). Ketika jalan turunan, pakailah compression damping seminimal mungkin. Jika fork atau shock tenggelam sewaktu pengereman atau mentok melebihi travel pada sag yang benar, tambahkan damping. Beberapa fork kelas atas membagi lagi settingan ini dalam dua jenis yaitu Low Speed & High Speed Compression Damping (Kalau di RS namanya Mission Control). Low Speed Compression Damping mengatur peredaman tekanan ringan seperti pergerakan rider, juga gundukan kecil serta traksi. High Speed Compression Damping mengatur peredaman tekanan besar seperti pendaratan setelah jump dan tekanan mendadak seperti di tikungan/berm.

Improve Your Balance
Perbaiki Keseimbanganmu
Mengatur keseimbangan pada permukaan jalan rata sangatlah mudah seperti duduk di sofa. Tapi bagaimana caranya mengatur keseimbangan sewaktu jalur berbelok ke kiri, kanan, atas dan diatasnya lagi? Kalau kamu pernah mengalaminya, kamu akan tahu bahwa mencoba bertahan dengan menggenggam erat handlebar hanya akan membuatmu terpental. Kuncinya adalah tetap relaks dan dapatkan posisi dimana keseimbangan alami tubuh kamu akan menjalankan tugasnya, jadi kamu bisa konsentrasi pada membuat keputusan.

Latihan Untuk Membangun Jurus
Tangan Terbuka - bukalah tanganmu pada posisi bersiap, jangan angkat atau tekan dengan tanganmu, hanya jaga keseimbangan dengan kakimu.


Berdirilah diatas kakimu. Arahkan sebagian besar berat badan kamu melalui kaki sehingga kamu bisa gunakan otot tungkai dan pinggul yang bertenaga untuk menggerakkan sepeda dengan cepat.

Rileks. Ketegangan terus menerus adalah musuh dari keseimbangan. Jangan menekan handlebar ke depan dan belakang, biarkan bergerak bebas dengan menjaga badan sebelah atas kamu tetap santai.

Gunakan pinggulmu. Berbeloklah dengan pinggul seperti orang yang sedang main ski dan coba untuk memulai perpindahan berat badan ketengah untuk lebih meningkatkan efisiensi.

Meningkatkan Jurus Dasar
Kalau kamu ingin bersepeda lebih cepat, kamu harus mampu untuk bergerak diatas sepeda dengan lebih cepat lagi. Pergerakan badan yang efisien, keseimbangan dan koordinasi adalah inti dari semua jurus dasar ini. Anggap aja sebagai bahan dasar dari gowes kamu. Inilah beberapa tipsnya:


Manual. Jangan tarik ke atas - gunakan pinggulmu untuk menggeser berat badan kearah roda belakang dan selalu imbangi dengan rem belakang.



Menikung. Gunakan pinggulmu untuk mengawali belokan, lihat kemana arahmu pergi. Untuk berbelok kamu harus miringkan badan; jangan takut untuk melakukannya.

Latihan Untuk Membangun Jurus
Membangun Dasar - berlatihlah jurus dasar pada permukaan tanah datar dulu baru coba pada jalur yang lebih teknikal kemudian.

Pengereman. Tarik tuas rem secara bertahap, turunkan pinggulmu dan arahkan berat badanmu ke kaki.


Kontrol Tekanan. Tekan sepedamu kebawah dengan mendorong berat badan melalui kaki. Lepas keatas dengan cara menurunkan pinggulmu.

Bunnyhop (atau banihup kata teman saya). Awali banihup dengan dengan manual dulu kemudian geser pinggulmu ke depan untuk mengangkat roda belakang.

Fitur Terpisah
Ada suatu lokasi di jalur gowes yang selalu membuatmu merasa tidak percaya diri tiap kali melewatinya. Temukan penyebabnya, mulailah berlatih dari versi kecil masalahnya dulu untuk membantu bagaimana menghadapi yang besar nanti.

Latihan Untuk Membangun Jurus
Variasikan Kecepatanmu - Cobalah sesi yang sama dengan kecepatan berbeda untuk meningkatkan keseluruhan jurus kamu.


Drop-Offs. Kalau kamu sudah miliki ilmunya dan kamu juga sudah praktikkan jurusnya maka sesekali kamu harus melangkah keluar dari zona nyaman kamu untuk peningkatan jurus. Kamu akan terkejut atas apa yang bisa kamu lakukan.

Latihan Untuk Membangun Jurus
Mulai Dari Yang Kecil - Cari lokasi dengan fitur yang sama tapi lebih mudah dan berlatihlah disitu dulu untuk membangun rasa percaya diri.


Step-Up. Fitur teknikal dengan resiko rendah sangatlah mudah untuk diabaikan dan mudah pula untuk jadi bencana berulang kali. Kembalilah ke awal dan hentikan teknik buruk itu.


Tingkatkan Pandanganmu. Semakin cepat gowesmu maka semakin jauh kedepan pula kamu harus melihat di depan untuk mengidentifikasi jalur dan segala fiturnya (batu, pohon, cekungan dll). Sangatlah penting untuk konsentrasi ketika sedang gowes, tetap lihat jalur mana yang lebih lancar (smooth) juga fitur sulit mana yang lebih mudah untuk dihindari.

Latihan Untuk Membangun Jurus
Gowes Ke Jalur Baru - Cobalah gowes ke jalur yang belum pernah kamu lewati untuk meningkatkan scan dan kemampuan kamu menandai jalur.


Komitmen. Jika kamu akan melakukannya, maka kamu harus komit. Ragu2 sedikit atau setengah jalan biasanya akan berakhir dengan kegagalan - yang terkadang sangat sakit sekali. Dengan tidak meremehkan, fokus dan berkomitmen maka kamu akan mendapat kesempatan untuk meraihnya. Jangan pernah coba semua hal yang kamu belum mengerti atau tidak yakin kamu sanggup melakukannya.

Latihan Untuk Membangun Jurus
Berpikir Positif - Berpikirlah tentang apa yang akan kamu lakukan, bagaimana kamu akan melakukannya - dan bukan hal yang lain.


Siapakah orang2 ini? Yup, merekalah yang beraksi untuk kita dalam foto2 diatas. Perkenalkan Raffertys Bersaudara. Alex dan Joe Rafferty adalah tokoh2 di belakang Pro Ride Guides (www.prorideguides.com), salah satu perusahaan jasa coaching terbaik di UK. Tips dan latihan mereka adalah segalanya yang kita ingin capai - lebih halus, lebih cepat dan gowes yang lebih bugar.

Artikel ini diterjemahkan dari MBUK edisi Maret 2013

Sunday, March 24, 2013

Kenapa Strava Bagus

Why Strava Doesn't Suck

Mengapa Strava Tidaklah Buruk
Oleh Jason Summer, featuring editor dari mtbr.com, rekan Kurt di postingan sebelumnya.

Yup, terkadang data yang diunggah dulu bahkan sebelum helm dilepas.


Dengan segala hormat kepada rekan saya Kurt beserta opininya, saya harus mengecualikan pendapatnya yang negatif tentang berkembang pesatnya Strava akan mengakhiri masa2 mengasyikkan dari bersepeda, seperti yang sudah kita ketahui.
Bukanlah Strava yang jelek, beberapa orang yang memakai (dan sesekali menyalah gunakan) jasa layanan sharing jalur gowes itulah yang jelek. Dan kamu harus dengan tegas memisahkannya.
Tentu saja ada beberapa rider diluar sana yang menjadi sangat kecanduan dan terobsesi oleh identitas Strava mereka sampai2 setiap kali gowes adalah berarti balapan, hidup atau mati. Benar juga ada para idiot yang berkoar2 disekitar jalur singletrack sambil berteriak "Strava...strava!" ketika para anak2 muda sedang berusaha menuju PR baru atau KOM. Dan betul, ada beberapa orang yang cukup bodoh untuk meng-upload data dari gowes di jalur ilegal, meskipun hal itu sama dengan versi sepeda dari mencuri mobil dan mengendarainya beberapa kali di depan kantor polisi. Tetapi seandainya kamu tidak memperhatikan, manusia bukanlah makhluk yang paling pintar. Kalau iya kenapa ada acara tv keluarga yang bernama Honey Boo Boo? (kalo kata wikipedia, Honey Boo Boo ini adalah acara tv reality show tentang keluarga tipikal di Amerika, yang walaupun sangat populer tapi condong ke arah bodoh dan negatif-hal ini lagi2 tipikal keluarga disana, katanya).

Untuk mengatakan bahwa Strava sendiri sangat jelek karena beberapa orang bertingkah buruk ketika memakainya adalah sama dengan berkata bahwa beer itu buruk karena beberapa orang minum terlalu banyak kemudian memarkir mobilnya di tiang telepon (ini terjemahan langsung, bukan berarti saya sebagai seorang muslim pemilik blog ini mendukung bahwa beer itu baik kalau cuma sedikit hihi). Meskipun kita semua tahu bahwa tiang telepon bisa jadi benda yang terancam keberadaannya, tapi pasti saya gak bakal mau kalau beer jadi sesuatu hal yang melanggar hukum.

Strava adalah cara murah dan mudah untuk mencatat jalur gowes terbaik yang langka itu.

Jujur, saya suka Strava. Dia menyediakan paduan dari kompetisi yang bersahabat antar teman, buku harian online lengkap dari petualangan gowes seseorang, dan sebuah langkah tepat untuk memastikan rute jalan dan jalur singletrack di daerah baru yang belum pernah dicoba. Dan kalau kamu adalah tipe orang yang suka berlatih, ada banyak cara untuk mencatat kemajuan, menganalisa data tenaga, dan secara umum mencatat apakah segala jarak dan segmen itu berarti bagimu atau tidak. Strava hanyalah sebuah alat, tak kurang dan tak lebih.


Orang2 yang menganggapnya lebih serius dari itu (sekedar alat) sepertinya hanyalah orang2 sama yang tidak bisa mengerti tentang hukum-goweser-tanjakan-punya-hak-atas-jalan (maksudnya terlalu kaku dengan norma2 persepedaan), atau seseorang yang berteriak tentang komando posisi peleton selama gowes bareng santai di akhir minggu. Dicks are dicks (apa ya...kurang lebih pecundang ya tetap pecundang...). Hal itu tak akan pernah berubah.



Tetapi untuk tiap2 "Stravaddict" seperti kolega saya memanggil mereka (om Kurt maksudnya), ada beberapa orang yang telah dikenalkan kepada Strava dan hasilnya jadi terinspirasi untuk gowes lebih sering, berlatih lebih banyak, dan menjelajah lebih jauh (nah kalau ini contohnya banyak, mulai dari Master Strava om Mario sampai ke teman2 lain yang progresnya pesat sekali, from zero to hero. Salut!). Itulah intisari dari persepedaan. Jadi kenapa mesti membenci sesuatu yang mendorong hal2 positif tersebut?



Mungkin sikap santai, non-formil saya adalah kenyataan karena saya tinggal di area Boulder, Colorado dimana sangat jarang orang heboh dan ribut soal KOM Strava. Sangat jarang. Boulder sendiri ditempati oleh banyak orang2 cepat (pembalap World Tour, pengin jadi pembalap, konsultan mandiri berbadan super fit, Ironmen pengangguran-Ironmen itu bukan superhero tapi atlit triathlon, dlsb). Saya sendiri bukan salah satu dari orang2 itu.


Tetapi bahkan bagi rider yang tinggal di area yang rata2 orangnya sangat fit (karena itu bisa ikut kontes KOM), saya percaya bahwa banyak pemakai yang menyimpan kegunaan Strava dalam perspektif. Tentu saja merampas posisi leaderboard adalah hal yang keren sekali. Tetapi mayoritas dari pesepeda disana adalah cukup pintar untuk mengerti perbedaan dari  mall terdekat dan Alpen.


Bagi beberapa orang, puncak leaderboard adalah impian terindah.


Ketika saya ingin mengukur bagaimana kemampuan saya, saya mengandalkan fitur Strava yang bisa membuat seseorang untuk menyaring data ke bawah agar lebih mudah diatur. Semisal daripada berkompetisi dengan semua penduduk Boulder County, saya akan menurunkan batas ke hanya orang2 yang saya ikuti (teman2 saya) atau orang2 yang sesuai dengan profil saya (umur 40-tahunan, berat 100kg plus). Itu pun biasanya posisi saya masih paling belakang.

Tetapi sering kali, apa yang saya suka tentang Strava adalah dia memberi saya (dan semua orang yang memakainya dengan penuh tanggung jawab) sebuah jalan untuk mencatat waktu selama pantat berada di atas sadel. Jujur aja, sewaktu musim balap tiba, saya coba untuk meraih sedikit kebugaran dan mungkin ikut beberapa lomba (mountain, road dan cross). Untuk itu, Strava adalah cara yang sangat murah, nyaman dan mudah untuk memantau bagaimana kemajuan saya. Dan pastinya tidak ada yang salah dengan sedikit motivasi. Tentu saja saya bisa memakai jam tangan, peta, bolpoin dan sempoa untuk menyimpulkan semuanya. Tetapi jujur aja, apa ada yang salah dari menyambut teknologi abad ke-21?

Jawabannya adalah, tidak ada. Asal jangan jadi pecundang aja.



Nah itulah rekans tulisan yang pro Strava. Seperti yang sudah diketahui, kenyataannya berkat Strava-lah kemajuan skill teman2 berkembang dengan pesat. Padahal belum ada setahun haha... Juga berkat Strava-lah kita bisa bertemu banyak teman dan jalur baru. Seperti tulisan diatas, Strava hanyalah alat, sama seperti pisau, berguna tidaknya tergantung dari pemakainya sendiri. Temans sendiri bagaimanakah pengalaman bersama Strava? Silakan disharing.
Ada komen atau kritikan? Silakan ditulis dibawah.
Artikel ini hanya terjemahan bebas dari mtbr.com berikut foto2nya. Isi bukan tanggung jawab pemilik blog.














Kenapa Strava Jelek


Why Strava Sucks
Mengapa Strava Itu Buruk
Oleh: Kurt Gensheimer aka The Angry Singlespeeder, editor kontribusi di mtbr.com

Etiket Strava

Disebut apakah jika ada dua orang yang sedang gowes bareng? Balapan sepeda.
Disebut apakah jika ada dua orang yang sedang gowes bareng dan mereka pakai Strava? Balapan sepeda yang gak ada habisnya.

Secara konsepnya, Strava adalah ide yang bagus; memetakan jalur gowes dan menyediakan rute tersebut untuk referensi adalah layanan yang sangat hebat. Sangat pas buat pendatang luar kota yang gak tau sama sekali jalur gowes mana yang bagus dan butuh petunjuk praktis lewat ujung jari mereka. Tapi kenyataannya, saya pikir Strava buruk karena satu alasan utama - manusia gak bisa dipercaya untuk memakainya dalam konteks sikap bertanggung jawab secara sosial. Dia hanya akan membakar ego lelaki (alpha-male ego) di dalam diri kita semua, merusak aspek sosial yang selama ini bikin gowes jadi menyenangkan.

Apa yang telah terjadi pada latihan jaman dulu dimana kamu hanya pakai jam tangan dan jalur yang biasa kamu lewati? Satu hari dimana kamu akan keluar gowes sendiri, lain hari gowes bareng teman dan nikmati aspek sosial dari mengejar teman yang paling fit gowesnya, hanya untuk lihat sampai dimana kamu sanggup mengikuti mereka.

Sekarang orang2 mengeluh tentang jadi posisi ke-10 dari 200 orang pada tanjakan tertentu, yang sepertinya hal itu adalah suatu prestasi yang besar sekali. But who cares? Di Strava, kalo kamu bukan yang nomer satu, maka mungkin aja kamu yang terakhir. Dan itu masalahnya. Obsesi terus menerus tak berguna untuk jadi nomer satu akan merusak kenikmatan yang biasanya kita dapat dari bersepeda.

Strava adalah paradoks (ada dua sifat yang saling bertolak belakang, sama kayak Banshee saya hehe) nyata, karena dia adalah suatu bentuk yang paling anti sosial dari media sosial. Karena semua orang jadi sangat terobsesi pada waktu personal terbaik atau sedang nelanjangin data KOM sang juara, akhirnya orang2 jadi gak saling berbicara sewaktu gowes. Mereka kalo nggak lagi genjot abis ya sedang bersiap2 untuk itu. Interaksi sosial tidak akan terjadi sampai semua orang pulang ke rumah masing2 dan mulai utak-utik pakai smartphone atau komputer mereka, saling beri kudos dan toss (high-fives) canggih model internet lainnya.

Di dalam dunia tanpa Strava, pada hari apapun kamu bisa jadi yang pertama di tanjakan dan ngomong "Hore aku bisa kalahkan tanjakan ini. Hari yang sangat baik." Kalo pakai rekaman Strava, hasilnya hanya menegaskan prestasi kamu yang biasa2 aja. Setidaknya kalo tanpa Strava, kamu masih bisa bilang kalo kamu adalah yang tercepat pas gowes hari itu.

Terima kasih kepada Strava, recovery ride (mancal santai sehabis gowes ngebut/abis) sudah jadi barang antik. Kalo kamu sedang recovery ride dan hape atau Garmin kamu lagi jalan/on, maka orang2 akan lihat kamu di posisi 185 dari 200 orang. Terus gosipnya mulai berterbangan. "Oh man, lihat waktu si Billy pas tanjakan Bukit Monyet? Pasti dia jatuh tuh!" Dan ego rapuh dari goweser mana yang bisa tahan terhadap perlakuan seperti itu.

Kalo kamu pengin balapan, maka carilah grup gowes tercepat di daerah kamu, atau buka dompet dan daftarlah untuk ikut lomba. Balapan sendiri - atau lebih parah - balapan pas acara gowes yang sebetulnya bukan untuk berlomba adalah suatu hal yang buruk. Dalam hal yang sama seperti smartphone yang merubah kode2 sosial dari interaksi antar manusia, Strava telah merubah gaya gowes seseorang - untuk jadi lebih buruk.

Sebuah peta.

Saya gak punya Garmin. Saya juga gak punya smartphone. Saya cuma punya sebuah hape lipat kuno dan bergantung ke sesuatu yang disebut peta. Tahu kan, yang dari kertas itu lho. Yang ada garis2 topografi dan titik2 jalur yang bisa beri tahu kamu dimana letak tambang tua, jalan setapak atau jalur mobil off road. Peta yang mengharuskan kamu untuk membacanya terlebih dulu sebelum keluar gowes, jadi pas kamu ada di tengah2 hutan kamu masih punya ide dimana kamu berada. Terima kasih kepada banyaknya pemakai Strava, kartografi (ilmu baca peta) sudah jadi disiplin ilmu yang sekarat (jadi ingat sama om Pentol aka apukat.com hehe).

Mungkin kenikmatan terbesar dari tidak memakai Strava adalah mengalahkan seseorang yang juara di setiap KOM. Sering kali saya biarkan penggila Strava (Strava Kooks) dapat balapan kecil mereka sampai ke puncak. Tapi sesekali saya jadi muak dengan gangguan sosial ini dan ikutan masuk. Rasa puas yang tiada tara datang dari mengalahkan para pecandu Strava (Stravaddict), karena meskipun dia tahu kalo dia sendiri juara KOM, tapi dia  juga tahu kalo sebenarnya dia bukanlah KOM (ingat kalo penulis gak punya Strava). Betul sekali, mungkin ada ratusan bahkan ribuan orang gaptek seperti saya diluar sana yang gak pakai Strava tapi bisa gowes lebih cepat dari KOM dia.

Dan karena kamu gak pernah percaya kepada manusia untuk bisa bersikap penuh tanggung jawab, ada berbagai macam kebodohan yang diawali dengan Strava yang tidak hanya merusak kenikmatan sosial dari gowes, tapi juga melukai reputasi yang lebih luas lagi dalam komunitas. Ambil contoh sang jenius yang gowes di jalur ilegal (yup, beruntunglah temans, diluar negeri sono kita gak bisa gowes di sembarang area, ada yang terlarang) kemudian posting segmen di Strava ke pemilik tanah, manajer lahan bahkan ke polisi hutan bahwa mereka baru aja gowes disana. Tidak hanya hal ini akan membuat seluruh komunitas sepeda terlihat jelek (ingat anak2 trail dengan motornya), juga akan membahayakan masa depan jalur tersebut. Di jalur legal, tikungan dipotong dan halangan dibuang hanya demi nama "kudos" yang kosong tak berguna.

Pakai ini kalau mau curang di Strava.

Terima kasih kepada tujuan tiada henti dari mengejar segmen KOM, manusia selalu mencari cara bermain pada suatu sistem. Ada tips dan trik untuk mencurangi Strava, seperti naik mobil/motor ke suatu tanjakan besar atau mengakhiri suatu segmen di rumah kamu sendiri jadi gak bakalan ada orang yang bisa mencuri KOM kamu (Hayo ada gak yang seperti ini?). Seserius inikah? Saya kira menerobos lampu merah dan menyelinap diantara keramaian lalu lintas tidaklah cukup bodoh.

Beberapa rider pasti pernah mendengar kisah William "Kim" Flint II dari Berkeley, CA, seorang rider yang tewas setelah menabrak sebuah mobil ketika sedang mengejar tahta KOM segmen downhill-nya yang hilang di South Park Drive. Dalam gaya tipikal Amerika, sebuah gugatan langsung keluar, diajukan oleh keluarga Flint yang menuduh Strava sebagai pihak yang bersalah. Meskipun banyak pihak percaya bahwa gugatan ini adalah bercanda serta sia-sia, sampai sekarang kasus ini masih berada di pengadilan, belum tuntas. Sama seperti yang saya pikir bahwa Strava sangatlah buruk, mencoba menyalahkan Strava untuk kelalaian seseorang adalah hal yang lebih buruk lagi.

Di dalam dunia tanpa Strava, rider tidak akan berpikir tentang lusinan segmen ketika sedang gowes. Jika mereka gowes dengan mudah, mereka bisa santai dan menikmati alam serta semua kenikmatan yang didapatkan dari bersepeda. Jika mereka gowes dengan keras, mereka hanya akan berpikir tentang siapa rider disebelah mereka dan siapa yang akan duluan sampai di puncak bukit. Mereka akan saling bersaing dan mengalahkan satu sama yang lain, dan pada akhirnya mereka pun tidak akan cemas tentang pulang ke rumah untuk memakai komputernya untuk melihat siapa dan dapat apa. Mereka sudah tahu...sampai ke gowes berikutnya. Dan hal ini secara positif tidaklah buruk.

Flag this dangerous Strava segment. Coba kalo berani.

Seseorang telah mencuri KOM kamu!

Strava membuatku kecanduan!

Saling berbagi jalur adalah mustahil jika kita sedang balapan Strava.

Strava bikin aku jadi seorang pecandu!

Gak bisa lihat dan ambil foto pelangi kalo sedang balapan Strava.

The picture speaks for itself.

Garis start dan tulisan segmen Strava mulai terlihat di jalan aspal dan gunung.

Kecepatan rata2 yang terdokumentasi oleh Strava ternyata melanggar batas kecepatan lalu-lintas!


Nah bagaimana tanggapan para sobat? Ternyata tulisan tentang Strava ini gak jauh beda dengan yang kita alami di Indonesia ya? Oh well it's a globalization, they said. Lucunya om Kurt ini sangat anti dengan teknologi bahkan cenderung sangat hiperbola kalau tidak suka dengan Strava. Cuma saya setuju dengan - lagi2 menyadur kata teman2 saya om Indra dan om Pentol - Strava itu hanya just for fun, kalo pengin ngebut beneran ya ikut balapan dan waktu dihitung pakai stopwatch, bukan dengan GPS sipil yang titik akurasinya bisa 5-10 meter!
Diterjemahkan secara bebas dari mtbr.com berikut foto2nya. Mohon maaf jika terjemahannya ada yang salah. Untuk itu saya minta tanggapan dan kritiknya. Saya tidak bertanggung jawab akan tulisan ini. Tanya aja sama oom Kurt diatas.
Incoming: Setelah yang kontra, ada tulisan yang pro Strava: Why Strava Doesn't Sucks. Nantikan di postingan berikutnya. Salam Gowes!